BAB II LOYALITAS KONSUMEN

Posted: November 26, 2014 in Uncategorized

2.1     Pengertian Loyalitas

          Prilaku setelah pembelian suatu produk ditentukan oleh kepuasan atau ketidakpuasan akan suatu produk sebagai akhir dari proses penjualan. Konsep loyalitas konsumen lebih banyak dikaitkan dengan prilaku (behavior) dari pada sikap. Salah satu sikap positif konsumen dapat ditunjukan melalui setia pada produk peruusahaan dan merekomondasikan produk tersebut kepada konsumen lain, sedangkan sikap negatif ditunjukan melalui perkataan negatif kepada konsumen lain dan berpindah kepada perusahaan lain. Kesetiaan merupakan sesuatu yang timbul tanpa adanya paksaan tetepi timbul dengan sendirinya. Adapun definisi loyalitas adalah pembentukan sikap dan pola prilaku seorang konsumen terhadap pembelian dan penggunaan produk hasil dari dari pengalaman mereka sebelumnya (Griffin, 2005).

2.2     Karakteristik Loyalitas Konsumen

Loyalitas pelanggan merupakan ukuran yang dapat diandalkan untuk memprediksi pertumbuhan penjualan dan juga loyalitas pelanggan dapat didefinisikan berdasarkan prilaku pembelian yang konsisten (Griffin, 2005).

Berikit ini adalah karakteristik loyalitas konsumen:

1. Melakukan pembelian berulang secara teratur

Konsumen melakukan pembelian secara berulang pada suatu produk tertentu.

2. Membeli antar lini produk atu jasa

Konsumen tidak hanya membeli jasa dan produk utama tetapi konsumen juga membeli lini dan jasa dari perusahaan yang sama.

3. Mereferesikan kepada orang lain

Dimana konsumen melakukan komunikasi dari mulut ke mulut berkenaan dengan produk tertentu.

4. Menunjukan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing

Konsumen menolak untuk menggunakan produk atau jasa alternatif yang ditawarkan oleh pesaing.

2.3     Jenis-Jenis Loyalitas Konsumen

Ada empat jenis loyalitas konsumen menurut Griffin, 2005:

1. Tahap loyalitas

Untuk berbagai alasan, beberapa konsumen yang tidak mengembangkan loyalitas terhadap produk atau jasa tertentu. Artinya, konsumen tidak akan pernah menjadi konsumen yang loyal, mereka hanya berkontribusi sedikit terhadap suatu perusahaan. Secara umum perusahaan harus menghindari suatu kelompok yang masuk kategori tanpa loyalitas untuk dijadikan target pasar karena mereka tidak akan pernah menjadi konsumen yang loyal.

2. Loyalitas yang lemah

Keterkaitan yang lemah digabung dengan pembelian ulang tinggi akan menghasilkan loyalitas yang lemah. Konsumen yang memiliki sikap ini biasanya membeli berdasarkan kebiasaan. Dasar yang digunakan untuk pembelian produk biasanya karena sudah terbiasa atau karena selalu menggunakan produk tersebut. Kesetiaan seperti ini biasanya banyak terjadi pada produk yang sering dipakai, tetapi tidak menutup kemungkinan konsumen yang memiliki loyalitas yang lemah berubah dengan cara medekatkan diri kepada konsumen tersebut melalui produk yang lebih dibandingkan pesaing, misalnya dengan meningkatkan kualitas produk tersebut dan menambah fasilitas lainnya.

3. Loyalitas tersembunyi

Tingkat preferensi yang relatif tinggi yang digabung dengan tingkat pembelian berulang yang rendah menunjukan loyalitas yang tersembunyi.

4. Loyalitas premium

Loyalitas premium merupakan jenis loyalitas yang terjadi bila suatu tingkat ketertarikan yang tinggi berjalan selaras dengan aktifitas pembeli. Loyalitas seperti inilah yang diharapkan oleh perusahaan. Pada tingkat referensi yang tinggi, maka konsumen akan bangga dalam menggunakan produk tersebut dengan senang hati dan membagi pengetahuan dari pengalaman mereka kepada teman, keluarga atau konsumen lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s